REKENING DONASI

kemudahan dalam berdonasi. donasikan sebagian dari harta anda untuk saudara-saudara kita

SMS Penyegar GRATIS

sms tausiah gratis

 

Tidak asing lagi bahwa riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Banyak dalil yang menunjukkan akan keharaman riba dan berbagai sarana terjadinya riba.

Firman Allah Ta'ala berikut adalah salah satu dalil yang nyata-nyata menegaskan akan keharaman praktik riba:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  .آل عمران: 130

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."  (Qs. Ali Imran: 130).

Ibnu Katsir rahimahullah  ketika menafsirkan ayat ini berkata, "Allah Ta'ala melarang hamba-hamba-Nya kaum mukminin dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliyyah, bila piutang telah jatuh tempo mereka berkata kepada yang berhutang, ‘engkau melunasi hutangmu atau membayar riba’, bila ia tidak melunasinya, maka pemberi hutangpun menundanya dan orang yang berhutang menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga menjadi besar jumlahnya beberapa kali lipat. Dan pada ayat ini Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bertakwa agar mereka selamat di dunia dan di akhirat." (Tafsir Ibnu Katsir, 1/404).

Pada ayat lain, Allah Tala'a berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {275} يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ {276} إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ {277} يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {278} فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ  (البقرة: 275-280)

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Allah telah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran / ingkar, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (Qs. al-Baqarah: 275-280).

Kelima ayat ini merupakan larangan sekaligus ancaman berat bagi orang-orang yang memakan riba. Dan pada kelima ayat ini terdapat berbagai petunjuk (alasan) kuat  lagi tegas bagi keharaman riba:

Pertama: Pemakan riba akan dihinakan di hadapan seluruh makhuk, yaitu ketika ia dibangkitkan dari kuburannya, ia dibangkitkan dalam keadaan yang amat hina, ia dibangkitkan bagaikan orang kesurupan lagi gila.

Ibnu 'Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, "Pemakan riba akan dibangkitkan dari kuburannya dalam keadaan gila dan tercekik."

Penjelasan yang senada dengan ini juga disampaikan oleh Sa'id bin Jubair, Qatadah, dan Ibnu Zaid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir at-Thobary dalam tafsirnya (Tafsir At Thobary 3/102).

Kedua: Penegasan bahwa riba diharamkan oleh Allah Ta'ala, sehingga tidak termasuk ke dalam perniagaan yang nyata-nyata dihalalkan.

Ketiga: Ancaman bagi orang yang tetap menjalankan praktik riba setelah datang kepadanya penjelasan dan setelah ia mengetahui bahwa riba diharamkan dalam syariat Islam, akan dimasukkan ke neraka. Bahkan bukan sekedar masuk ke dalamnya, akan tetapi dinyatakan pada ayat di atas bahwa "ia kekal di dalamnya."

Disebutkannya ancaman berupa adzab neraka atau hukuman di dunia merupakan salah satu bukti bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar, sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama (Silakan baca keterangan lebih lanjut tentang definisi dosa besar dalam kitab: al-Fishal Fi Milal wal Ahwa' Wal Ahwa'  oleh Ibnu Hazem al-Andalusy, 4/48,  al-Kabair oleh Imam adz-Dzahaby, 7).

Imam adz-Dzahaby rahimahullah berkata:

من ارتكب شيئا من هذه العظائم مما فيه حد في الدنيا كالقتل و الزنا و السرقة أو جاء فيه وعيد في الآخرة من عذاب أو غضب أو تهديد أو لعن فاعله على لسان نبينا محمد صلى الله عليه و سلم فإنه كبيرة

"Barangsiapa yang melakukan salah satu dari perbuatan besar ini, yang padanya ditetapkan hukum had (pidana) di dunia, misalnya pembunuhan, perzinaan, dan pencurian atau datang suatu ancaman di akhirat berupa adzab atau kemurkaan (Allah) atau ancaman atau kutukan terhadap pelakunya melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berarti perbuatan tersebut adalah dosa besar." (Idem).

Dan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nyata-nyata menyebutkan perbuatan memakan riba sebagai perbuatan dosa besar.

عن أبي هريرة رضي الله عنه  أن رسول الله صلّى الله عليه و سلّم  قال: (اجتنبوا السبع الموبقات. قيل: يا رسول الله، وما هن؟ قال: الشرك بالله والسحر وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق وأكل مال اليتيم وأكل الربا والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات). متفق عليه

"Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jauhilah olehmu tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan (pelakunya ke dalam neraka).’ Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah dosa-dosa itu?’ Beliau bersabda, ‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari medan peperangan, dan menuduh wanita mukmin yang menjaga (kehormatannya) lagi baik (bahwa ia telah zina).’"  (HR. Muttafaqun 'alaihi).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Seorang pemimpin yang adil. Seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid-masjid. Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua bertemu dan berpisah karena-Nya. Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Seorang lelaki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

 

Pada suatu malam, Nugi dan Dipta sedang duduk bersama di depan rumah kos. Mereka sedang asyik ngobrol tentang apa itu arti hidup. Saat itu Nugi bertanya kepada Dipta, “menurut kamu apa itu arti hidup?” kemudian Dipta menjawab, “menurutku hidup itu perjuangan dari seorang Ibu ditemani oleh seorang Bapak sejak Ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari, merawat sejak bayi sampai saat ini. Mereka lakukan tanpa mengharap imbalan apapun. Mereka yang bangun di malam hari untuk mendoakan kita agar bisa selamat di dunia maupun di akhirat. Begitulah arti hidup menurutku. Bagaimana kalau menurutmu Nugi? Tanya Dipta kembali.

Kalau menurutku hidup adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada kita karena melihat pengorbanan yang telah dilakukan oleh Ibu dan Bapak kita. Tanpa anugerah dari Allah SWT, pengorbanan yang dilakukan oleh Ibu dan Bapak kita tidak  ada artinya. Allah lah Yang Maha Kuasa atas semua yang terjadi selama ini.

Hikmah yang dapat diambil dari percakapan Nugi dan Dipta adalah bahwa kita harus bersyukur Kepada Allah SWT dengan selalu berbuat baik kepada Allah SWT dan kedua orang tua kita, karena ridho Allah adalah ridho kedua orang tua. Selain itu, kita harus memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk selalu memberikan manfaat untuk alam semesta ini.

QUOTE:

“Kita boleh lelah dengan keadaan, tapi kita tidak boleh menyerah dengan keadaan. Semangat tanpa batas walaupun dalam keadaan terbatas”.

 

 

 

 

 

 

Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah SAW tidak ketinggalan ikut berlomba meraih kebaikan, meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya kepada Rasulullah SAW.

Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari Rasulullah kemudian mengajarkannya kepada kaum wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah saw memuji Aisyah.

Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah saw., engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah saw. menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar).

Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat Rasulullah saw. Di sekitar Rasulullah berkumpullah kaum pria dan juga kaum wanita. Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan hubungannya dengan suaminya.” Maka tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara. “Benar ya Rasulullah, ada pria atau wanita yang suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah menimpali, “Jangan kalian lakukan itu, karena itu jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan syaitan wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.”

Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah tangga yang serba pas-pasan tapi tidak pernah mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan Fatimah. Kutub Tarajim membenarkan cerita tentang Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari karena nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan bertanya, “Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok kelihatan pucat?”

Dia menjawab, “Saya sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan di rumah.” Ali menimpali, “Mengapa engkau tidak bilang kepadaku?”

Dia menjawab, “Ayahku, Rasulullah saw., menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta.” Luar biasa bukan?

Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga?” Aku menjawab, “Ya.”

Dia melanjutkan, “Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah saw. Bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.”

Wanita itu berkata, “Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku.”
Maka, Rasulullah saw mendoakannya.

Ada juga wanita yang ikut berperang seperti Nasibah binti Kaab yang dikenal dengan Ummu Imarah. Dia becerita, “Pada Perang Uhud, sambil membawa air aku keluar agak siang dan melihat para mujahidin, sampai aku menemukan Rasulullah saw. Sementara, aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah sambil ikut berperang membentengi beliau dengan pedang dan terkadang aku memanah. Aku pun terluka, tapi manakala Rasulullah saw. terpojok dan Ibnu Qamiah ingin membunuhnya, aku membentengi beliau bersama Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan pedangku, tapi dia memakai pelindung besi dan dia dapat memukul pundakku sampai terluka. Rasulullah saw. bercerita, “Setiap kali aku melihat kanan kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada Perang Uhud.” Begitu tangguhnya Ummu Imarah.

Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya mati syahid. Ia berkata, “Alhamdulillah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid.”

Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw. Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia, rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan lain-lain.

 

sumber: insan inspirasi

 

 

 

 

Dalam dekapan ukhuwah kita bersambung

Bukan untuk saling terikat membebani

Melainkan untuk saling tersenyum memahami

Dan saling mengerti dengan kelembutan nurani

Kawan, kini bukan saatnya kita untuk slalu menuntut

Saudara kita untuk memberikan senyum pengertian untuk Kita

Tapi, kini saatnya kita memberikan senyum itu untuk Saudara Kita.

 

Your Sharing Partner! Smile

 

 

 

 

 

 

“Sedekah itu berkah.” Iya, betul sekali. Itulah yang disampaikan oleh salah satu donatur RQ Management yakni Mas Taufik salah seorang Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Dia menyampaikan bahwa sedekah itu membuat kehidupannya memiliki manfaat atau keberkahan bagi sesama. Dia meyakini bahwa sedekah itu tidak harus dalam kondisi kelebihan harta. Justru sedekah yang penting adalah ketika kita hanya memiliki harta yang pas-pasan kemudian kita sedekahkan kepada orang yang benar-benar sangat membutuhkan. Apalagi orang tersebut adalah hafidz Al Quran.

Tidak hanya itu, Dia juga membagi pengalamannya seputar keajaiban sedekah. Dia mengatakan telah rajin sedekah dari sejak masih duduk di bangku SMA. Ketika dia kesulitan dalam belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasional, Dia menyempatkan untuk sedekah. Subhanallah, setelah bersedekah dia dimudahkan untuk belajar dan akhirnya lulus Ujian Nasional dengan nilai memuaskan. Ketika memasuki bangku kuliah, dia juga rajin melakukan sedekah. Misalnya ketika kesulitan untuk menemui dosbing (dosen pembimbing) skripsi atau tesis, dia sempatkan untuk sedekah. Alhamdulillah, akhirnya dosbingnya bisa ditemui.

 

Ternyata memang benar adanya kalau sedekah itu memberikan keberkahan kepada sesaama dan memudahkan. Demikian tadi adalah salah satu pengalaman dari donator RQ Management. Jika kalian masih belum percaya tentang keajaiban-keajaiban sedekah, silahkan mencoba..:)

 

Wallahu ‘a’lam bisshowab

 

 

 

 

Santri SPA Rijalul Qur'an menerima kunjungan dari jamaah  pengajian Al Husna pada Senin(24/3). Dalam rangka menjalin silaturahim yang lebih baik dengan santri, pengurus serta RQ Management, ibu-ibu pengajian meluangkan waktu menuju lokasi pondok. Bapak Imam Purnomo dari RQ Management mengantarkan dan mengikuti agenda tersebut dari awal hingga akhir. Sementara di pondok SPA Rijalul Qur'an ustadz Zulfa, ,memberi sambutan baik pada tamu. Sejumlah donasi untuk pembangunan dan kebutuhan pokok santri diberikan kepada  pengurus pondok.

Dalam acara itu, jamaah diwakili oleh ibu Jujuk menyatakan kebanggaannya terhadap santri penghafal Al Qur'an. Dengan keistiqomahan dan niat sungguh-sungguh mereka belajar demi meraih masa depan dan cita-cita.  Tak ada yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran itu meskipun hampir semua santri berasal dari yatim/dhuafa.

 

Niat dan semangat senantiasa membara dalam hati adik-adik santri SPA. Subhanallah, semoga Allah meridhoi ilmu yang mereka tuntut :)

Aamiin.

 

 

 

Aisyah r.a bercerita ketika ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, diangkat menjadi khalifah, ia berkata,

"Rakyatku telah mengetahui bahwa uangku dan perdaganganku telah mencukupi keluargaku, tetapi sekarang aku telah disibukkan dengan urusan kekhalifahan dan menyelesaikan urusan kaum muslimin sehingga tidak ada waktu bagiku untuk berdagang. Oleh karena itu, nafkahku ditetapkan oleh Baitul Mal." (HR Bukhari)

 

Abu Bakar r.a sudah ditunjuk menjadi khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW yang telah meninggal dunia, tetapi ia tetap berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sejak pagi dini hari, Abu Bakar r.a. telah membawa beberapa kain untuk dijual di pasar. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Umar bin Khathab r.a. Mereka pun saling berucap salam. "Hendak ke mana engkau, wahai Abu Bakar?" tanya Umar r.a.

"Ke pasar!" jawab Abu Bakar r.a sambil menunjukkan barang dagangannya.

Mendengar itu, Umar r.a. mengingatkan tugas Abu Bakar r.a sebagai khalifah negara dengan bertanya, "Jika kamu disibukkan dengan perdaganganmu, kapan kau akan mengurus umat?"

"Inilah yang biasa aku lakukan untuk menafkahi keluargaku. Jika aku tidak berdagang, siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup keluargaku?" timpal Abu Bakar r.a.

Kemudian Umar r.a mengajak sahabatnya untuk meminta pendapat Abu Ubaidah yang diberi gelar Ummul ummah oleh Rasulullah SAW yang artinya kepercayaan umat.

Abu Ubaidah menetapkan gaji untuk Abu Bakar r.a yang diambil dari harta Baitul Mal sebesar 4.000 dirham per tahun. Dengan demikian, Abu Bakar r.a dapat memusatkan perhatiannya untuk mengurus umat tanpa terbebani permasalahan keluarga.

Suatu hari, istri Abu Bakar r.a. menginginkan manisan. la membutuhkan bahan-bahan manisan untuk membuatnya. Kemudian ia meminta suaminya untuk membelikan apa yang ia butuhkan. "Aku tidak punya uang untuk membelinya," jawab Abu Bakar r.a atas permintaan sang istri.

"Jika kau setuju, aku akan menyisihkan uang belanja kita sedikit demi sedikit hingga terkumpul untuk membeli bahan-bahan manisan," usul istrinya. Abu Bakar r.a pun menyetujuinya.

Dalam beberapa hari uang tersebut telah terkumpul. Sang istri kembali meminta bantuan Abu Bakar r.a agar membelikannya bahan-bahan manisan dengan uang tersebut. Rupanya sang istri tidak sabar ingin segera menikmati manisan yang ia gemari.

Akan tetapi, apa yang dikatakan sang suami? Sambil menerima uang yang diserahkan oleh istrinya, Abu Bakar r.a berkata, "Kini aku tahu bahwa kita menerima gaji dari Baitul Mal lebih dari yang kita butuhkan. Aku akan mengembalikan uang ini ke Baitul Mal." Sejak saat itu, Abu Bakar r.a mengurangi gajinya sebanyak uang yang dapat disisihkan istrinya pada waktu lalu tersebut.

Tindakan Abu Bakar ini berlanjut dan memerintahkan anaknya, Aisyah, untuk mengembalikan seluruh barang yang telah diambil dari Baitul Mal, termasuk mengembalikan gajinya selama ia memerintah 2 tahun lamanya sebesar 8.000 dirham ke Baitul Mal.

Bahkan, peninggalan Abu Bakar r.a hanya seekor unta betina, sebuah mangkuk, dan seorang hamba sahaya. Itu pun ia berikan kepada khalifah selanjutnya, yaitu Umar bin Khathab r.a.

Ketika Umar bin Khaththab r.a menerima peninggalan sahabatnya dari Aisyah r.a, ia berkata,

"Semoga Allah SWT merahmati Abu Bakar. la telah menunjukkan jalan yang sulit untuk ditempuh para penggantinya."

 

Maksud Umar r.a atas perkataannya adalah Abu Bakar r.a. telah memberikan suri teladan yang sangat berat untuk dilaksanakan oleh para penerusnya. Subhanallah…

                                           

 

 

dikutip dari berbagai sumber.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berkah atau barokah berasal dari bahasa Arab, al-barokah, artinya “berkembang, bertambah, dan kebahagiaan” (Lisanul Arab Ibnu Manzhur). Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”. Para ulama menjelaskan, bentuk keberkahan sebuah harta atau pekerjaan tidak boleh hanya dipahami dalam wujud pertambahan jumlah harta, namun juga dapat berupa bertambahnya kemanfaatan harta tersebut, walaupun secara kuantitatif tidak bertambah.

Bisa jadi, keberkahan itu berupa tercukupinya kebutuhan, meski harta yang dimiliki tergolong minim. Mungkin saja penghasilan seseorang secara kuantitatif kurang dan secara matematis tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya, namun ternyata ia tetap bisa hidup bahagia, tentram, terhindari dari penyakit, dan tidak punya utang.

“Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya.” (Ibnu Qayyim).

 

Sebaliknya, harta yang tidak berkah menjadikan pemiliknya tetap sengsara secara batiniyah dan mendatangkan bencana, misalnya ternyata harta tersebut menjadikannya sombong, boros, bahkan sakit-sakitan sehingga hartanya banyak dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Harta itu ibarat hujan. Mendatangkan berkah jika menyuburkan tanah dan mengairi sawah-ladang sehingga tanaman tumbuh dan berbuah. Mendatangkan bencana jika mengakibatkan banjir dan longsor. Harta berkah mendatangkan kedamaian, tercukupi kebutuhan, bahkan mendatangkan kebaikan dan menjadi bekal di akhirat jika sebagian diinfakkan di jalan Allah (Zakat, Infak, Sedekah).

 

Untuk mendapatkan harta yang berkah, Islam memerintahkan umatnya untuk menempuh cara halal dan membersihkannya dari hak orang lain (zakat). Harta yang didapat secara tidak halal, tidak akan berkah, bahkan mengundang bencana. Konon, banyak anak pejabat berakhlak buruk karena dinafkahi dengan harta hasil korupsi.

Islam melarang segala bentuk upaya mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang batil dan aniaya, seperti riba, judi, menipu, dan suap. Seperti firman Allah SWT:

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al-Baqarah:278-279, Al-Maidah:90).

 

Manakala ayat berkenaan dengan riba diturunkan kepada Muslimin yang memiliki piutang dari hasil riba, makanya mereka bertanya kepada Rasul berkaitan dengan ini. Ayat ini lalu diturunkan dan Rasul Saw mengumumkan ditengah-tengah Muslimin mengumumkan bahwa semua kontrak berkaitan dengan riba adalah batal dan keluarga serta kerabat Rasul harus meninggalkan riba paling dahulu.

Membantu orang-orang miskin dan memberikan utang kepada mereka, identik dengan memberi utang kepada Allah dan Allah SWT akan memberikan pahalanya. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang yang melakukan kezaliman terhadap orang-orang miskin dengan jalan mengambil riba bahwasanya jika kalian tidak meninggalkan riba, maka Allah SWT dan rasul-Nya akan bangkit memerangi para pelaku kezaliman.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik kesimpulan bahwa:

  1. Iman bukanlah hanya dengan puasa dan shalat, melainkan dengan menjauhi harta haram, adalah syarat iman dan indikasi takwa.
  2. Islam menghormati kepemilikan, namun tidak mengizinkan orang-orang kaya menjajah dan mengeksploitasi.
  3. Berbuat zalim dan mau dizalimi, kedua-duanya terkutuk. Memakan riba adalah terlarang dan demikian juga memberikan riba.

 

Dilanjutkan dengan dua (2) ayat berikutnya, bahwa ada pedoman tentang bagaiman cara memperoleh harta yang berkah:

 

Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-Baqarah: 280-281).

Sebagai lanjutan ayat-ayat terdahulu, yang merangsang orang-orang Mukmin agar membayar infak dan melarang mereka mengambil riba, ayat ini menyinggung poin moral sehubungan dengan bukan hanya dalam utang kalian jangan mengambil riba, malah ketika dalam masa yang sudah dijanjikan orang yang berutang tidak dapat membayar maka berilah dia kesempatan, dan lebih mulia dari itu bebaskanlah utangnya itu dan ketahuilah bahwa pemberianmu ini tidak akan terbiar tanpa jawaban dan Allah Swt akan menggantinya di Hari Kiamat tanpa dikurangi. Jika anjuran-anjuran agama dilaksanakan dalam masyarakat, maka ketulusan akan bertambah berlipat ganda? Keperluan orang-orang miskin akan terpenuhi dan juga orang kaya akan terbebaskan dari kerakusan dan kebakhilan dan keterkaitan dengan dunia serta dinding antara si kaya dengan si miskin dapat diperkecil.

                                       

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

  1.  Masalah yang utama dalam infak dan memberikan utang adalah untuk mewujudkan kesenangan dan kelapangan bagi orang-orang miskin, maka tidak boleh orang kaya memberikan pinjaman membuat orang miskin itu kembali jatuh miskin dan tidak berkemampuan membayarnya.
  2. Islam pendukung sejati orang-orang tertindas dan dengan diharamkannya riba dan dianjurkannya infak, kekosongan-kekosongan ekonomi masyarakat dapat terpenuhi.
  3. Mencari keridhaan Allah SWT dan keridhaan Khalik lebih baik dari mencari penghasilan.

Untuk memperoleh harta yang berkah haruslah dengan cara yang berkah serta dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan Islam. Semoga kita senantiasa dalam lingkungan sya’i agar dijauhkan dari siksa api neraka. Aamiin

Wallahu a’lam bish-shawab.

Harta dan nafkah tidak jauh hubungannya, bahkan itu menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas ketika seseorang telah berumah tangga. Harta, yang telintas di pikiran manusia hanya harta yang dikejar, Tak bosan mereka bersusah payah kerja keras dari pagi sampai malam hanya demi mencapai tujuan duniawi itu. Sering sekali harta menjadi permasalahan besar sehingga menimbulkan pertumpahan darah.

Dalam kehidupan rumah tangga, harta selalu berkaitan dengan kewajiban suami serta hak istri. Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan tanggung jawab memberi nafkah istri, diantaranya,

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. An-Nisa’:34)

 

Allah SWT juga berfirman,

“Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (Q.S. Al-Baqarah:233)

 

Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah r.a, beliau bertanya kepada Nabi SAW,

‘Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad 20013, Abu Daud no. 2142, Ibnu Majah 1850, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

 

 

Nafkah Suami kepada Istri Bernilai Sedekah

 

Kewajiban suami adalah bekerja, memenuhi nafkah keluarga. Islam membebankan pemberian nafkah keluarga ada dipundak para suami bukan para istri. Oleh karena itu dituntut kepada para suami untuk keluar rumah mencari karunia Allah demi memenuhi kewajiban tersebut. Adapun besar pemberian nafkah tidaklah ditentukan besarnya akan tetapi disesuaikan dengan kadar kemampuan mereka. Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami. Nafkah mencakup: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana yang menjadi kebutuhan istri untuk hidup dengan layak.

 

Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a, Rasulullah SAW bersabda,

”Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.” (HR.Bukhari 5351).

 

Dalam hadis lain dari Sa’d bin Malik r.a, Rasulullah SAW bersabda,

 “Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari 2742 dan Muslim 1628).

 

Harta Suami-Istri

Harta suami adalah milik suaminya pribadi namun diwajibkan baginya untuk jatah nafkah istri yang harus ditunaikan. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi seorang istri mengambil, membelanjakan atau menggunakannya tanpa seizinnya.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh seorang istri memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya.”

 

Imam Nawawi mengatakan bahwa,

“Seorang istri tidak berhak mensedekahkan sesuatu dari harta suami tanpa seizinnya demikian pula pembantu. Dan jika mereka berdua melakukan hal demikian maka mereka berdua telah berdosa.” (Shahih Muslim bi Syarh an Nawawi juz VI hal 205)

 

Namun hal diatas dikecualikan terhadap sesuatu yang tidak seberapa nilainya menurut kebiasaan atau karena kebakhilan suami dalam menafkahkan istrinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Aisyah berkata;  Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami) nya bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikitpun pahala masing-masing dari mereka”.

Berbeda dengan harta istri. Allah SWT menegaskan bahwa harta  istri itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri. Dalil kesimpulan ini adalah ayat tentang mahar,

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”(QS. An-Nisa: 4)

 

Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga.

Dalam Fatwa Islam ditegaskan,

”Khusus masalah gaji istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316).

 

Sebagai umat  Muslim, maka kita wajib berhati-hati terhadap masalah harta. Apalagi semua ketentuannya sudah ada dalam Al Qur’an.

Walahu a’lam bisshowab.

 

Sumber : http://www.konsultasisyariah.com

 http://www.eramuslim.com