REKENING DONASI

kemudahan dalam berdonasi. donasikan sebagian dari harta anda untuk saudara-saudara kita

SMS Penyegar GRATIS

sms tausiah gratis

 

Dalam dekapan ukhuwah kita bersambung

Bukan untuk saling terikat membebani

Melainkan untuk saling tersenyum memahami

Dan saling mengerti dengan kelembutan nurani

Kawan, kini bukan saatnya kita untuk slalu menuntut

Saudara kita untuk memberikan senyum pengertian untuk Kita

Tapi, kini saatnya kita memberikan senyum itu untuk Saudara Kita.

 

Your Sharing Partner! Smile

 

 

 

 

 

 

“Sedekah itu berkah.” Iya, betul sekali. Itulah yang disampaikan oleh salah satu donatur RQ Management yakni Mas Taufik salah seorang Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Dia menyampaikan bahwa sedekah itu membuat kehidupannya memiliki manfaat atau keberkahan bagi sesama. Dia meyakini bahwa sedekah itu tidak harus dalam kondisi kelebihan harta. Justru sedekah yang penting adalah ketika kita hanya memiliki harta yang pas-pasan kemudian kita sedekahkan kepada orang yang benar-benar sangat membutuhkan. Apalagi orang tersebut adalah hafidz Al Quran.

Tidak hanya itu, Dia juga membagi pengalamannya seputar keajaiban sedekah. Dia mengatakan telah rajin sedekah dari sejak masih duduk di bangku SMA. Ketika dia kesulitan dalam belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasional, Dia menyempatkan untuk sedekah. Subhanallah, setelah bersedekah dia dimudahkan untuk belajar dan akhirnya lulus Ujian Nasional dengan nilai memuaskan. Ketika memasuki bangku kuliah, dia juga rajin melakukan sedekah. Misalnya ketika kesulitan untuk menemui dosbing (dosen pembimbing) skripsi atau tesis, dia sempatkan untuk sedekah. Alhamdulillah, akhirnya dosbingnya bisa ditemui.

 

Ternyata memang benar adanya kalau sedekah itu memberikan keberkahan kepada sesaama dan memudahkan. Demikian tadi adalah salah satu pengalaman dari donator RQ Management. Jika kalian masih belum percaya tentang keajaiban-keajaiban sedekah, silahkan mencoba..:)

 

Wallahu ‘a’lam bisshowab

 

 

 

 

Santri SPA Rijalul Qur'an menerima kunjungan dari jamaah  pengajian Al Husna pada Senin(24/3). Dalam rangka menjalin silaturahim yang lebih baik dengan santri, pengurus serta RQ Management, ibu-ibu pengajian meluangkan waktu menuju lokasi pondok. Bapak Imam Purnomo dari RQ Management mengantarkan dan mengikuti agenda tersebut dari awal hingga akhir. Sementara di pondok SPA Rijalul Qur'an ustadz Zulfa, ,memberi sambutan baik pada tamu. Sejumlah donasi untuk pembangunan dan kebutuhan pokok santri diberikan kepada  pengurus pondok.

Dalam acara itu, jamaah diwakili oleh ibu Jujuk menyatakan kebanggaannya terhadap santri penghafal Al Qur'an. Dengan keistiqomahan dan niat sungguh-sungguh mereka belajar demi meraih masa depan dan cita-cita.  Tak ada yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran itu meskipun hampir semua santri berasal dari yatim/dhuafa.

 

Niat dan semangat senantiasa membara dalam hati adik-adik santri SPA. Subhanallah, semoga Allah meridhoi ilmu yang mereka tuntut :)

Aamiin.

 

 

 

Aisyah r.a bercerita ketika ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, diangkat menjadi khalifah, ia berkata,

"Rakyatku telah mengetahui bahwa uangku dan perdaganganku telah mencukupi keluargaku, tetapi sekarang aku telah disibukkan dengan urusan kekhalifahan dan menyelesaikan urusan kaum muslimin sehingga tidak ada waktu bagiku untuk berdagang. Oleh karena itu, nafkahku ditetapkan oleh Baitul Mal." (HR Bukhari)

 

Abu Bakar r.a sudah ditunjuk menjadi khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW yang telah meninggal dunia, tetapi ia tetap berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sejak pagi dini hari, Abu Bakar r.a. telah membawa beberapa kain untuk dijual di pasar. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Umar bin Khathab r.a. Mereka pun saling berucap salam. "Hendak ke mana engkau, wahai Abu Bakar?" tanya Umar r.a.

"Ke pasar!" jawab Abu Bakar r.a sambil menunjukkan barang dagangannya.

Mendengar itu, Umar r.a. mengingatkan tugas Abu Bakar r.a sebagai khalifah negara dengan bertanya, "Jika kamu disibukkan dengan perdaganganmu, kapan kau akan mengurus umat?"

"Inilah yang biasa aku lakukan untuk menafkahi keluargaku. Jika aku tidak berdagang, siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup keluargaku?" timpal Abu Bakar r.a.

Kemudian Umar r.a mengajak sahabatnya untuk meminta pendapat Abu Ubaidah yang diberi gelar Ummul ummah oleh Rasulullah SAW yang artinya kepercayaan umat.

Abu Ubaidah menetapkan gaji untuk Abu Bakar r.a yang diambil dari harta Baitul Mal sebesar 4.000 dirham per tahun. Dengan demikian, Abu Bakar r.a dapat memusatkan perhatiannya untuk mengurus umat tanpa terbebani permasalahan keluarga.

Suatu hari, istri Abu Bakar r.a. menginginkan manisan. la membutuhkan bahan-bahan manisan untuk membuatnya. Kemudian ia meminta suaminya untuk membelikan apa yang ia butuhkan. "Aku tidak punya uang untuk membelinya," jawab Abu Bakar r.a atas permintaan sang istri.

"Jika kau setuju, aku akan menyisihkan uang belanja kita sedikit demi sedikit hingga terkumpul untuk membeli bahan-bahan manisan," usul istrinya. Abu Bakar r.a pun menyetujuinya.

Dalam beberapa hari uang tersebut telah terkumpul. Sang istri kembali meminta bantuan Abu Bakar r.a agar membelikannya bahan-bahan manisan dengan uang tersebut. Rupanya sang istri tidak sabar ingin segera menikmati manisan yang ia gemari.

Akan tetapi, apa yang dikatakan sang suami? Sambil menerima uang yang diserahkan oleh istrinya, Abu Bakar r.a berkata, "Kini aku tahu bahwa kita menerima gaji dari Baitul Mal lebih dari yang kita butuhkan. Aku akan mengembalikan uang ini ke Baitul Mal." Sejak saat itu, Abu Bakar r.a mengurangi gajinya sebanyak uang yang dapat disisihkan istrinya pada waktu lalu tersebut.

Tindakan Abu Bakar ini berlanjut dan memerintahkan anaknya, Aisyah, untuk mengembalikan seluruh barang yang telah diambil dari Baitul Mal, termasuk mengembalikan gajinya selama ia memerintah 2 tahun lamanya sebesar 8.000 dirham ke Baitul Mal.

Bahkan, peninggalan Abu Bakar r.a hanya seekor unta betina, sebuah mangkuk, dan seorang hamba sahaya. Itu pun ia berikan kepada khalifah selanjutnya, yaitu Umar bin Khathab r.a.

Ketika Umar bin Khaththab r.a menerima peninggalan sahabatnya dari Aisyah r.a, ia berkata,

"Semoga Allah SWT merahmati Abu Bakar. la telah menunjukkan jalan yang sulit untuk ditempuh para penggantinya."

 

Maksud Umar r.a atas perkataannya adalah Abu Bakar r.a. telah memberikan suri teladan yang sangat berat untuk dilaksanakan oleh para penerusnya. Subhanallah…

                                           

 

 

dikutip dari berbagai sumber.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berkah atau barokah berasal dari bahasa Arab, al-barokah, artinya “berkembang, bertambah, dan kebahagiaan” (Lisanul Arab Ibnu Manzhur). Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”. Para ulama menjelaskan, bentuk keberkahan sebuah harta atau pekerjaan tidak boleh hanya dipahami dalam wujud pertambahan jumlah harta, namun juga dapat berupa bertambahnya kemanfaatan harta tersebut, walaupun secara kuantitatif tidak bertambah.

Bisa jadi, keberkahan itu berupa tercukupinya kebutuhan, meski harta yang dimiliki tergolong minim. Mungkin saja penghasilan seseorang secara kuantitatif kurang dan secara matematis tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya, namun ternyata ia tetap bisa hidup bahagia, tentram, terhindari dari penyakit, dan tidak punya utang.

“Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya.” (Ibnu Qayyim).

 

Sebaliknya, harta yang tidak berkah menjadikan pemiliknya tetap sengsara secara batiniyah dan mendatangkan bencana, misalnya ternyata harta tersebut menjadikannya sombong, boros, bahkan sakit-sakitan sehingga hartanya banyak dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Harta itu ibarat hujan. Mendatangkan berkah jika menyuburkan tanah dan mengairi sawah-ladang sehingga tanaman tumbuh dan berbuah. Mendatangkan bencana jika mengakibatkan banjir dan longsor. Harta berkah mendatangkan kedamaian, tercukupi kebutuhan, bahkan mendatangkan kebaikan dan menjadi bekal di akhirat jika sebagian diinfakkan di jalan Allah (Zakat, Infak, Sedekah).

 

Untuk mendapatkan harta yang berkah, Islam memerintahkan umatnya untuk menempuh cara halal dan membersihkannya dari hak orang lain (zakat). Harta yang didapat secara tidak halal, tidak akan berkah, bahkan mengundang bencana. Konon, banyak anak pejabat berakhlak buruk karena dinafkahi dengan harta hasil korupsi.

Islam melarang segala bentuk upaya mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang batil dan aniaya, seperti riba, judi, menipu, dan suap. Seperti firman Allah SWT:

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al-Baqarah:278-279, Al-Maidah:90).

 

Manakala ayat berkenaan dengan riba diturunkan kepada Muslimin yang memiliki piutang dari hasil riba, makanya mereka bertanya kepada Rasul berkaitan dengan ini. Ayat ini lalu diturunkan dan Rasul Saw mengumumkan ditengah-tengah Muslimin mengumumkan bahwa semua kontrak berkaitan dengan riba adalah batal dan keluarga serta kerabat Rasul harus meninggalkan riba paling dahulu.

Membantu orang-orang miskin dan memberikan utang kepada mereka, identik dengan memberi utang kepada Allah dan Allah SWT akan memberikan pahalanya. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang yang melakukan kezaliman terhadap orang-orang miskin dengan jalan mengambil riba bahwasanya jika kalian tidak meninggalkan riba, maka Allah SWT dan rasul-Nya akan bangkit memerangi para pelaku kezaliman.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik kesimpulan bahwa:

  1. Iman bukanlah hanya dengan puasa dan shalat, melainkan dengan menjauhi harta haram, adalah syarat iman dan indikasi takwa.
  2. Islam menghormati kepemilikan, namun tidak mengizinkan orang-orang kaya menjajah dan mengeksploitasi.
  3. Berbuat zalim dan mau dizalimi, kedua-duanya terkutuk. Memakan riba adalah terlarang dan demikian juga memberikan riba.

 

Dilanjutkan dengan dua (2) ayat berikutnya, bahwa ada pedoman tentang bagaiman cara memperoleh harta yang berkah:

 

Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-Baqarah: 280-281).

Sebagai lanjutan ayat-ayat terdahulu, yang merangsang orang-orang Mukmin agar membayar infak dan melarang mereka mengambil riba, ayat ini menyinggung poin moral sehubungan dengan bukan hanya dalam utang kalian jangan mengambil riba, malah ketika dalam masa yang sudah dijanjikan orang yang berutang tidak dapat membayar maka berilah dia kesempatan, dan lebih mulia dari itu bebaskanlah utangnya itu dan ketahuilah bahwa pemberianmu ini tidak akan terbiar tanpa jawaban dan Allah Swt akan menggantinya di Hari Kiamat tanpa dikurangi. Jika anjuran-anjuran agama dilaksanakan dalam masyarakat, maka ketulusan akan bertambah berlipat ganda? Keperluan orang-orang miskin akan terpenuhi dan juga orang kaya akan terbebaskan dari kerakusan dan kebakhilan dan keterkaitan dengan dunia serta dinding antara si kaya dengan si miskin dapat diperkecil.

                                       

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

  1.  Masalah yang utama dalam infak dan memberikan utang adalah untuk mewujudkan kesenangan dan kelapangan bagi orang-orang miskin, maka tidak boleh orang kaya memberikan pinjaman membuat orang miskin itu kembali jatuh miskin dan tidak berkemampuan membayarnya.
  2. Islam pendukung sejati orang-orang tertindas dan dengan diharamkannya riba dan dianjurkannya infak, kekosongan-kekosongan ekonomi masyarakat dapat terpenuhi.
  3. Mencari keridhaan Allah SWT dan keridhaan Khalik lebih baik dari mencari penghasilan.

Untuk memperoleh harta yang berkah haruslah dengan cara yang berkah serta dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan Islam. Semoga kita senantiasa dalam lingkungan sya’i agar dijauhkan dari siksa api neraka. Aamiin

Wallahu a’lam bish-shawab.

Harta dan nafkah tidak jauh hubungannya, bahkan itu menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas ketika seseorang telah berumah tangga. Harta, yang telintas di pikiran manusia hanya harta yang dikejar, Tak bosan mereka bersusah payah kerja keras dari pagi sampai malam hanya demi mencapai tujuan duniawi itu. Sering sekali harta menjadi permasalahan besar sehingga menimbulkan pertumpahan darah.

Dalam kehidupan rumah tangga, harta selalu berkaitan dengan kewajiban suami serta hak istri. Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan tanggung jawab memberi nafkah istri, diantaranya,

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. An-Nisa’:34)

 

Allah SWT juga berfirman,

“Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (Q.S. Al-Baqarah:233)

 

Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah r.a, beliau bertanya kepada Nabi SAW,

‘Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad 20013, Abu Daud no. 2142, Ibnu Majah 1850, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

 

 

Nafkah Suami kepada Istri Bernilai Sedekah

 

Kewajiban suami adalah bekerja, memenuhi nafkah keluarga. Islam membebankan pemberian nafkah keluarga ada dipundak para suami bukan para istri. Oleh karena itu dituntut kepada para suami untuk keluar rumah mencari karunia Allah demi memenuhi kewajiban tersebut. Adapun besar pemberian nafkah tidaklah ditentukan besarnya akan tetapi disesuaikan dengan kadar kemampuan mereka. Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami. Nafkah mencakup: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana yang menjadi kebutuhan istri untuk hidup dengan layak.

 

Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a, Rasulullah SAW bersabda,

”Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.” (HR.Bukhari 5351).

 

Dalam hadis lain dari Sa’d bin Malik r.a, Rasulullah SAW bersabda,

 “Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari 2742 dan Muslim 1628).

 

Harta Suami-Istri

Harta suami adalah milik suaminya pribadi namun diwajibkan baginya untuk jatah nafkah istri yang harus ditunaikan. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi seorang istri mengambil, membelanjakan atau menggunakannya tanpa seizinnya.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh seorang istri memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya.”

 

Imam Nawawi mengatakan bahwa,

“Seorang istri tidak berhak mensedekahkan sesuatu dari harta suami tanpa seizinnya demikian pula pembantu. Dan jika mereka berdua melakukan hal demikian maka mereka berdua telah berdosa.” (Shahih Muslim bi Syarh an Nawawi juz VI hal 205)

 

Namun hal diatas dikecualikan terhadap sesuatu yang tidak seberapa nilainya menurut kebiasaan atau karena kebakhilan suami dalam menafkahkan istrinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Aisyah berkata;  Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami) nya bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikitpun pahala masing-masing dari mereka”.

Berbeda dengan harta istri. Allah SWT menegaskan bahwa harta  istri itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri. Dalil kesimpulan ini adalah ayat tentang mahar,

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”(QS. An-Nisa: 4)

 

Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga.

Dalam Fatwa Islam ditegaskan,

”Khusus masalah gaji istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316).

 

Sebagai umat  Muslim, maka kita wajib berhati-hati terhadap masalah harta. Apalagi semua ketentuannya sudah ada dalam Al Qur’an.

Walahu a’lam bisshowab.

 

Sumber : http://www.konsultasisyariah.com

 http://www.eramuslim.com

 

Kedudukan Harta

Islam, agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Karena seluruh ajarannya dapat dilaksanakan oleh manusia, sebagaimana diamalkan dengan baik oleh Rasulullah SAW, para sahahat, tabi’in, salafus saleh, dan orang-orang saleh hingga kini. Para da’i atau ulama pun hendaknya menunjukkan kemudahan itu, bukan malah menjadikan ajaran Islam terasa sulit diamalkan. Proses, tahapan, dan prioritas amal dalam Islam harus disosialisaikan (didakwahkan) kepada umat.

 

Islam hadir bukan untuk membuat susah manusia, jutsru mempermudah hidup dan kehidupannya. Sebagaimana layaknya “petunjuk jalan”, Islam memudahkan manusia untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika manusia merasa susah dalam hidupnya, bisa dipastikan, karena ia tidak mematuhi petunjuk Islam. Yang menjadikan Islam terasa berat dan susah adalah diri kita sendiri, lebih tegasnya hawa nafsu kita. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan sesungguhnya Kami memudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah yang mengambil pelajaran?” (QS. 54:17).

 

Untuk mengatur kehidupan manusia, Allah SWT menciptakan siang dan malam. Siang mencari nafkah atau bekerja, malam istirahat, karena tubuh kita pun punya hak istirahat. Itu sunnatullah.

“Sesungguhnya tubuhmu punya hak atas dirimu. Kedua matamu memiliki hak atas dirimu,” sabda Nabi SAW (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Lalu, ibadah? Bagi Muslim, seluruh aktivitas adalah ibadah. Hayatuna kulluha ‘ibadah, selama aktivitas itu ditujukan untuk mencari keridhoan-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS.An-Naba’:11)

 

Dengan siang, manusia diberikan kesempatan untuk mencari harta dunianya, untuk menafkahi keluarga tersayang. Namun apabila harta itu telah terpenuhi, maka hendaknya janganlah melupakan apa yang harus ditunaikan. Harta yang telah dimiliki maka selayaknya digunakan pula sesuai dengan perintah Allah. Setiap rupiah uang yang dikeluarkan sesuai dengan perintah-Nya justru mendatangkan keuntungan lagi bagi orang-orang yang mengeluarkannya. Tidak tanggung-tanggung, Allah akan melipatgandakan hingga berlipat-lipat. FirmanNya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”(QS. al-Baqarah: 261).

 

Di antara masalah kehidupan yang mendapat bahasan panjang lebar di dalam Al-Qur’an  yaitu masalah harta kekayaan. Ketika Qur’an berbicara tentang harta kekayaan, soal utang-piutang umpamanya, Al-Qur’an membahasnya panjang lebar dalam salah satu ayat yang terpanjang, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 282.  Hal lain yang dibicarakan cukup detail dalam Al-Qur’an adalah masalah waris yang juga menyangkut harta kekayaan. Al-Qur’an begitu detail membahas masalah harta karena manusia kalau sudah menyangkut harta ada kecenderungan berbuat tidak jujur dan ingin memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya untuk dirinya sehingga mungkin ijtihad seseorang juga dipengaruhi oleh egoisme (ananiah) dirinya, khususnya tentang harta.

Dijelaskan bahwa, harta merupakan anugerah, amanah, dan perhiasan.

 

1.  Harta adalah anugerah dari Allah.

Kaya dan miskin seseorang sepenuhnya adalah karena qadha dan qadar-Nya . Manusia diperintahkan untuk bekerja. Manusia juga diperintahkan untuk banyak memberi, tapi jumlah rezeki sepenuhnya ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan, sejumlah hadits mengemukakan, Allah SWT sudah menetapkan kekayaan seseorang itu sejak mereka mendapatkan tiupan ruh pertama.

Jadi, harta sepenuhnya ditentukan oleh Allah. Konsep ini membuahkan dua sikap.  (1) Manusia tidak boleh sombong karena kekayaan karena dia cuma penerima anugerah dari Allah. (2) Orang miskin pun tidak boleh minder karena kemiskinannya karena kemiskinannya merupakan rencana Allah SWT.  Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa, bukan karena yang paling kaya.

 

2.  Harta merupakan amanah atau titipan dari Allah.

Semakin besar kekayaan yang kita dapatkan, maka semakin besar tanggung jawab kita di hadapan-Nya. Semakin banyak kekayaan yang ada pada diri kita, maka semakin lama proses hisab nanti di akhirat.

 

3. Harta merupakan perhiasan dunia.

Sebagai hiasan kehidupan, maka manusia menjadi sering cenderung sombong dan takabur karena kekayaannya, “Kallaa innal insaana layathghoo”, Perhatikan bahwa manusia menjadi sombong, “Arro aahustaghnaa”. Karena dirinya merasa kaya, dia menjadi gila hormat, pujian, dan dia mudah tersinggung oleh orang miskin dan pada dia pun ada kecenderungan manusia menghormati seseorang karena melihat kekayaannya. Al-Qur’an juga mengamanatkan, harta yang ada pada diri kita adalah bagian dari fitnah yaitu ujian dari Allah, ujian keimanan dan kehidupan.

Harta dan juga keturunan anak hanyalah sarana untuk mencapai keridhaan Allah,

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan“. (QS. Al-Kahfi [18]: 46).

 

Karena itu jangan sampai harta serta anak menjadikan manusia lalai untuk ingat kepada Allah,

orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun[63]:9).

 

 

Akhlaq dalam Mencari Rezeki

Harta yang dimaksud adalah semua jenis benda dan barang untuk bekal hidup manusia, seperti pangan, sandang, papan, perhiasan dan sebagainya. Kewajiban manusia untuk menuntut dan mencari harta itu secara patut, berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan selalu mengharapkan ridha Allah SWT. Tidak boleh seseorang mencari harta itu dengan menjadikan dirinya sebagai pengemis atau peminta-peminta, kecuali jika ia sudah benar-benar tidak bedaya. Demikian pula Islam tidak membolehkan seseorang mencari dan mengumpulkan harta dengan penuh tipu daya, menyalahgunakan wewenang dan jabatan, dengan cara yang tidak halal, dan sebagainya.

Orang yang mencari harta benda dengan cara penuh kecurangan itu adalah penipu. Orang yang mencari harta dengan mengandalkan meminta-minta, itu adalah mengemis. Seseorang yang menuntut dan mencari harta dengan jalan yang tidak halal, seperti berjudi, mencuri, riba (seperti, rentenir, deposito), memeras atau pungutan liar (pungli), maka itu adalah pencuri, penjudi dan pemeras. Semua aktifitas menuntut harta seperti itu pada hakikatnya dapat menjatuhkan harga dirinya, sekaligus akan mendapat hukuman dari-Nya.

Islam sangat menghargai seseorang yang makan dan mencari harta dengan hasil kerjanya sendiri. Rasulullah SAW bersabda,

Tak ada satupun makanan yang lebih baik yang dimakan seseorang, selain dari jerih payahnya“. (Bukhari dan Ahmad).

 

Mencari rezeki dengan cara yang halal, meski hasilnya sedikit dan dipandang hina oleh orang lain, justru dalam pandangan Islam itu lebih baik. Mereka yang mencari rezeki dengan cara yang halal seperti pedagang asongan atau pedagang kaki lima, jauh lebih terhormat dalam pandangan Allah, dari pada mereka yang berdasi dan berjas bekerja di ruangan AC, tetapi mencari harta dengan cara melakukan penyimpangan dan kecurangan terhadap amanah yang dipercayakan kepadanya.

Rasulullah Saw dalam sabdanya mengatakan,

Sesungguhnya akan lebih baik, bila seseorang diantaramu memasukkan tanah ke dalam mulutnya (makan tanah) dari pada ia memakan sesuatu yang diharamkan Allah” (HR. Baihaqi).

 

Firman Allah SWT, “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya) “. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya “. (QS. Saba’[34]: 39).

 

Sebagai orang yang beriman haruslah kita yakin bahwa hanya dengan melalui jalan yang benar sajalah akan didapat rezeki yang berkah. Hal ini seperti ditegaskan Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman kepada para malaikat yang diserahi tugas urusan rezeki Bani Adam,

hamba mana pun yang kalian dapati yang cita-citanya hanya satu (yaitu semata-mata untuk akhirat, jaminlah rezekinya di langit dan di bumi. Dan hamba manapun yang kalian dapati mencari rezeki dengan jujur karena berhati-hati mencari keadilan, berilah ia rezeki yang baik dan mudahkanlah baginya. Dan jika ia telah melampaui batas kepada selain itu, biarkanlah dia sendiri mengusahakan apa yang dikehendakinya. Kemudian dia tidak akan mencapai lebih dari apa yang telah Aku tetapkan untuknya“. (HR. Abu Naim dari Abu Hurairah).

 

Maka dari itu hendaknya kita mencari rezeki harus mengikuti akhlak yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. yaitu:

1.     Niat yang Benar

Rasulullah Saw bersabda, “Seluruh amal tergantung pada niatnya“. Sebagai seorang muslim dalam melakukan seluruh aktifitas termasuk mencari rezeki hendaknya secara ikhlas, yakni semata-mata karena Allah SWT. Harus disadari bahwa yang dilihat oleh Allah SWT adalah bagaimana kita melakukan aktifitas mencari rezeki, bukan seberapa banyak rezeki yang kita dapat dari suatu aktifitas yang kita lakukan.

2.     Tidak Menzhalimi

Seorang muslim yang niatnya benar, yaitu karena dan untuk Allah SWT, maka ia pantang bekerja dengan menzhalimi orang lain. Betapa banyak orang yang tega menohok teman karena persaingan bisnis. Banyak orang rela pergi ke dukun (dan sejenisnya) hanya untuk mengalahkan saingannya. Banyak orang yang dengan tega memungut dan memeras bawahanyang lemah tanpa alasan yang jelas. Demikian adajuga orang yang mengharuskan orang lain untuk memberikan uang pelicin (suap) agar ia dapat diterima kerja atau agar masalahnya cepat selesai dan lain-lain. Na’udzubillah.

 3.     Bersyukur

Setelah rezeki (harta benda) ada ditangan, seseorang harus yakin bahwa semuanya itu hanyalah semata-mata anugerah Allah SWT, bahkan hakekatnya itu semua hanyalah milik Allah SWT. Sedangkan ia hanya dititipi saja. Maka dari itu ia wajib bersyukur, yaitu dengan mengakui bahwa semua itu adalah dari-Nya dan milik-Nya, dan tugasnya adalah mendayagunakan rezeki-rezeki tersebut untuk tujuan-tujuan usaha yang diridhai Allah SWT. Termasuk diantaranya berbagi kepada sesama, khususnya kepada orang-orang yang diwajibkan kepada pemilik rezeki untuk mengeluarkan sebagian rezekinya untuk mereka.

 

Untuk mendapatkan harta yang berkah, Islam memerintahkan umatnya untuk menempuh cara halal dan membersihkannya dari hak orang lain (zakat). Harta yang didapat secara tidak halal, tidak akan berkah, bahkan mengundang bencana.

“Janganlah kalian makan harta di antara kalian dengan cara yang batil dan janganlah kalian menyuap dengan harta itu dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).

 

Semoga kita semua menjadi Muslim yang taat pada ajaran Rasulullah SAW dan Al-Qur’an karena kehidupan kita sudah diatur oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Hari ini, telah nyata di depan mata kita apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya:

 “ Akan tiba suatu zaman dimana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram”
(HR. Bukhori)

Betapa banyak manusia pada hari ini sudah tidak memperdulikan lagi apakah harta yang dia makan bersama anak dan isterinya halal ataukah haram. Kerakusan manusia akan harta telah membuat masalah halal atau haram menjadi terabaikan, maka tak elak cara-cara kotor dalam mencari harta pun menjadi kebiasaan yang kian membudaya di kalangan masyarakat. Bahkan kalau kita lihat pemberitaan yang lagi hangat di media-media saat ini, betapa banyak kasus-kasus korupsi, suap, penipuan, pemerasan, pungutan liar, mark-up anggaran dan praktik-praktik ekonomi kotor lainnya kerap kita temui di berbagai sektor ekonomi, mulai dari instansi pemerintah, korporasi, bahkan merambah sektor yang terkecil di masyarakat kita, yakni sebuah keluarga.

 

Harta Halal

Harta halal adalah harta yang diperbolehkan oleh Allah untuk di manfaatkan oleh manusia sebagaimana yang telah di terangkan melalui rasul kepada kita umatnya. Kehalalan harta benda dapat di lihat dari dua sisi, yaitu dari sisi zatnya dan dari sisi mendapatkanya.

Harta halal karena zatnya adalah meliputi segala jenis makanan dan minuman yang terdapat di dunia ini, kecuali yang telah di jelaskan keharamanya, jadi asalnya semua makanan itu halal ,kecuali ada dalil baik Al Quran ataupun Hadis yang sahih yang melarangnya. Dalam surat Al-Maidah:1 Allah berfirman:

“ …….Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu…….”

Kemudian Al Maidah:4 surat yang sama Allah berfirman ,

Mereka menanyakan kepadamu, ” Apakah yang di halalkan bagi mereka?” Katakanlah,”Dihalalkan bagimu yang baik-baik…….”

 

Harta halal dari cara mendapatkanya, adalah segala sesuatu yang di peroleh dengan jalan yang di perbolehkan oleh hukum Allah, seperti:

  1. Harta warisan

Allah telah menghalalkan harta warisan bagi umat manusia seperti tercantum dalam firman-Nya berikut ini :

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya dan bagi wanita ada hak bagian(pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang di tetapkan.(QS.An-Nisa:7)

1. Harta zakat

 Allah telah memerintahkan untuk mengambil zakat dari orang -orang muslim yang kaya yang akan dibagikan kepada orang muslim yang berhak, yaitu Fakir, Miskin, ibnu sabil, mualaf dan lainya yang telah rinci di sebutkan dalam Al Quran (Insyaallah akan di bahas secara husus ditulisan yang lain) Allah berfirman:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menucikan mereka…….(Q.S. At-Taubah:103)

2. Harta perniagaan

…padahal Allah telah Menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba……(Q.S.Al_Baqarah: 275)

3. Harta Terpendam (harta Karun) dalam hal ini Rasulallah bersabda:

Dan di dalam rikaz (Harta karun) ,di keluarkan zakatnya sebanyak seperlima (dari jumlah rikaz). ( hadist Mutafaq ‘alaih)

Hadis diatas memberikan penjelasan bahwa harta karun yang di temukan adalah halal

4. Gaji/upah

Dalam Surat Al-Baqoroh ayat 168, Allah SWT telah memanggil semua manusia untuk tidak makan kecuali yang halal.

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:168)

Ibnu Katsir berkata tentang ayat diatas: “setelah Allah menjelaskan tentang tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Pemberi Rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Dia kemudian memberitahu akan izin-Nya terhadap segala sesuatu (sumber daya) yang ada dibumi untuk dimakan dengan syarat halal, selama tidak membahayakan akal dan badan.”

Pada saat dibacakan ayat tersebut oleh Rasulullah SAW, Said bin Abi Waqas meminta didoakan oleh Rasulullah agar menjadi orang yang mustajab (dalam berdo’a). Rasul berkata: Wahai Saad, makanlah makanan yang halal dan baik, niscaya do’amu akan mustajab. Demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, seseorang yang menelan sesuap makanan haram, ibadahnya selama 40 hari tidak akan diterima. Orang yang tumbuh dagingnya dari penghasilan haram dan riba maka tempatnya di neraka. (HR. Ibnu Mardawih)

Rasulullah SAW pernah bercerita tentang seorang yang sedang dalam perjalanan panjang, rambutnya kusut, pakaiannya kotor, ia menadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: Ya Rabb! Ya Rabb! Sedangkan makanan, minuman, dan pakaiannya haram. Mana mungkin, kata abi, permohonannya akan dikabulkan oleh Allah (HR Muslim). Ketika menyebut hadist ini Ibnu Katsir mengatakan: makanan halal adalah penyebab diterimanya doa dan ibadah, sebagaimana makanan haram penyebab ditolaknya doa dan ibadah.

 

Subhanallah…

 

Mengingat saat ini begitu banyak makanan yang terkontaminasi oleh zat yang diharamkan, bahkan coklat dan ice cream sekalipun, maka sudah selayaknya kita lebih memperhatikan siapa produsen/pededagangnya, apakah ada label/sertifikat halal atau tidak, dan bagaimanana komposisinya. Semoga kita diberikan kelapangan dan kekuatan oleh Allah untuk mendapatkan rizki dengan jalan yang halal. Dan semoga kita juga bisa saling mengingatkan ketika akan mengkonsumsi makanan maupun minuman sehingga terhindar dari zat yang diharamkan.

Dalam Surat Al-Mu’minun ayat 51, lebih khusus lagi Allah memanggil hamba-Nya yang mukmin untuk segera meraih harta yang halal :

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 23:51)

 

Aturan Tentang Harta

Syariat menetapkan aturan masalah harta, sehingga setiap orang yang mengamalkannya akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Aturan syariat tidaklah membatasi kebebasan individu beraktivitas terhadap harta. Syariat Islam memberi aturan untuk menjaga hak individu dan hak masyarakat pada harta, sehingga memiliki keistimewaan yang tidak ada dalam aturan lainnya.

Aturan dan ketentuan syariat Islam terhadap harta dinyatakan dalam beberapa hal:

1. Mengatur cara mencari harta, cara mengembangkannya dan mengeluarkannya (pemakaian).

Dalam mendapatkan harta, Allah menetapkan dua sarana: yang diperbolehkan dan yang dilarang.

Manusia hanya diminta melaksanakan sarana yang diperbolehkan dalam mencari harta.

2.  Menunaikan hak-hak wajib pada harta.

Baik yang kembali kepada pemilik atau orang lain. Hak harta yang berhubungan dengan pemilik, misalnya, digunakan untuk memenuhi kebutuhannya, secara wajar, tidak berlebihan dan tidak kikir.

Seperti dijelaskan dalam firman Allah, yang artinya,

"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra: 29)

Hak harta yang berhubungan dengan orang lain mencakup semua yang diwajibkan syariat pada harta yang penerimanya orang lain, seperti zakat, sedekah, infak kepada keluarga dan anak-anak dan hak-hak lain yang diwajibkan syariat.

3. Pemilik harta adalah Allah dan manusia hanya diberikan hak guna harta untuk membantu mewujudkan kemaslahatan individu dan umat.

 

4. Harta tidak bisa berkembang sendiri. Harta hanya berkembang dengan usaha, dan pengelolaan dalam proyek yang diperbolehkan syariat.  Karena itulah syariat mengharamkan riba, judi, dan turunannya.

5. Harta bukan simpanan.

Karena Allah menciptakan harta untuk diputar, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dan tidak hanya mengendap di satu tangan orang kaya.

 Allah tegaskan hal ini dalam Al-Quran, yang artinya,

Harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya berputar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Harta selayaknya digunakan untuk memutar roda ekonomi dan membuka peluang usaha, untuk mengembangkan SDM masyarakat. Penimbunan harta sama dengan melumpuhkan fungsi harta dan tertahan di tangan orang kaya saja.

Namun sungguh disayangkan. Sebagian besar kaum Muslimin justru lebih suka menyimpan harta dan kekayaan di bank. Terutama di bank yang bermarkas di Amerika dan Eropa. Tak heran, akibat penimbunan ini, merebak pengangguran di negara-negara Islam dan berkurangnya proyek-proyek produktif. Karena modal mereka lari ke negara lain.

Islam memerangi penimbunan harta dan mengajak kaum Muslimin mengembangkan dan mengelolanya. Sebagai contoh, tuntunan mudharabah adalah satu sarana menghilangkan penimbunan harta. Pemilik modal memberikan hartanya untuk dikembangkan oleh pengelola, untuk selanjutnya dilakukan bagi hasil terhadap segala bentuk risiko.

Salah satu indikator penting kebahagiaan hidup seorang mukmin adalah mendapatkan rezeki yang halal. Sebab, rezeki yang halal akan membuahkan ketenangan dan kedamaian, sekaligus menumbuhkan perilaku dan sifat yang baik, seperti kejujuran, kerendahan hati, memupuk kecerdasan dan kepekaan sosial. Sebaliknya, jiwa yang dimasuki barang haram akan menumbuhkan perilaku yang buruk, seperti bakhil, sombong, culas, nifak, dusta, bahkan menyebabkan doa dan ibadah tidak akan diterima dan dikabulkan Allah (sebagaimana dikemukakan dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Patutlah kita sadar harta yang sesungguhnya bukanlah harta yang selama ini kita simpan dan kita kumpulkan demi kepentingan duniawi, namun amal ibadah kita untuk bekal di alam yang kekal kelak. Harta yang kita miliki hendaklah digunakan demi meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, tentunya tidak mungkin berasal dari hasil yang tidak halal.

Surat Al Mulk ayat 15 menjelaskan kepada kita betapa bumi beserta isinya ini dihamparkan untuk kemaslahatan manusia, agar ia bekerja mencari karunia Allah di atasnya.

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. 67:15)

 

Bukankah hidup di dunia ini fana, apalagi yang kita cari? Kebahagiaan semu? Harta riba yang bahkan kalo dilihat di media media saat ini bahwa betapa banyak mereka yang mencari rezeki yang bukan haknya justru membawanya kepada malapetaka? Islam menghendaki kebaikan dalam segala hal, terlebih dalam persoalan harta. Harta yang kita usahakan hendaknya bersumber dari sesuatu yang halal dan kita salurkan di jalan yang halal pula, karena dengan cara itulah kita bisa mendapatkan ridho dan keberkahan dari-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

dikutip dari berbagai sumber

 

 

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan ancaman bagi orang yang meninggalkan jumatan sebanyak 3 kali tanpa udzur (halangan),

  1.  1. Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)
  2. Hadis dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)
  3. Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali, bukan karena darurat, Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ibnu Majah 1126 dan dishahihkan al-Albani)
  4. Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang mendengar adzan jumatan 3 kali, kemudian dia tidak menghadirinya maka dicatat sebagai orang munafik. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, dan dihasankan al-Albani dalam Shahih Targhib, no. 728).
  5. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut tanpa udzur, Allah akan mengunci mati hatinya.” (HR. At-Thayalisi dalam Musnadnya 2548 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih Jami’ as-Shaghir).
  6. Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan, ”Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut, berarti dia telah membuang islam ke belakang punggungnya.” (HR. Abu Ya’la secara Mauquf dengan sanad yang shahih – shahih Targhib: 732).

Dari beberapa riwayat di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita catat,

Pertama, yang dimaksud ‘Allah kunci hatinya’ adalah Allah menutup hatinya dan menghalangi masuknya hidayah dan rahmat ke dalam hatinya. Kemudian digantikan dengan kebodohan, sifat beringas, dan keras kepala. Sehingga hatinya seperti hati orang munafik. Demikian keterangan al-Munawi dalam Faidhul Qodir (6/133).

Ketika hati seseorang sudah dikunci mati, dia menjadi kebal hidayah. Seberapapun peringatan yang dia dengar, tidak akan memberikan manfaat dan tidak akan menggerakkan hatinya. Seolah dia terhalang untuk bertaubat.

Hukuman semacam ini mirip dengan hukuman yang Allah berikan kepada Iblis. Karena pembangkangannya, Allah tutup kesempatan bagi Iblis untuk bertaubat. Sungguh hukuman yang sangat menakutkan.

Demikian pula keadaan orang munafik. Karena batin mereka mengingkari kebenaran, Allah kunci mati hatinya, sehingga mereka menjadi bodoh dengan hidayah. Sebagaimana firman Allah SWT:

”Lalu hatinya dikunci mati, sehingga mereka tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun: 3).

Kedua, semua perbuatan dosa dan maksiat, akan menjadi sebab tertutupnya hati. Semakin besar dosa yang dilakukan seseorang, semakin besar pula penutup hatinya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’" (HR. Turmudzi 3334, dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

Meninggalkan jumatan tanpa udzur termasuk dosa berbahaya, yang menyebabkan hati pelakunya dikunci mati.

Ketiga, apakah harus berturut-turt?

Ada dua kemungkinan makna, sebagaimana yang dijelaskan As-Syaukani berikut,

Kemungkinan makna (pertama), ancaman ini terjadi ketika dia meninggalkan jumatan, baik berturut-turut atau secara terpisah. Sehingga ketika ada orang yang meninggalkan 1 kali jumatan setiap tahun, Allah akan mengunci hatinya pada pelanggaran yang ketiga. Itulah zahir hadis.

Kemungkinan makna (kedua), maksud ancaman ini, jika dia meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut, sebagaimana disebutkan dalam hadis Anas. Karena melakukan dosa berturut-turut dan terus-menerus, menunjukkan sedikitnya rasa takutnya. (Nailul Author, 3/266).

Keempat, ancaman ini berlaku bagi orang yang meninggalkan jumatan tanpa udzur, sebagaimana yang ditegaskan dalam banyak hadis di atas. Sedangkan orang yang memiliki udzur untuk tidak jumatan, seperti sakit, safar (perjalanan), di laut, atau udzur lainnya, tidak termasuk dalam ancaman ini.

Di zaman Umar, ada seseorang yang berencana melakukan safar di hari jumat. Kemudian dia mengurungkan rencananya, karena ingat harus jumatan. Kemudian ditegur oleh Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu,

Berangkatlah, karena jumatan tidaklah menghalangi orang untuk melakukan safar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5107).

Maka, Berangkatlah Jum'atan karena itu tidak memberatkan.
#OaseHati
Your Sharing Partner!

Allahu a’lam.

Dikutip dari berbagai sumber.

 

 

 

Senin, 24 Maret 2014, RQ Management telah mengantarkan tamu dari Malaysia pada SPA Rijalul Qur’an. Tamu tersebut berasal dari Maktab Rendah Sains Mara (MRSM) Mukah. Kegiatan yang diagendakan oleh MRSM Mukah tersebut disambut dengan baik dan antusias oleh santri SPA. Ustadz Arif Muhibullah sebagai pengurus utama pondok memberikan penjelasan pada tamu tentang SPA. Ditanggapi dengan baik pula oleh perwakilan dari MRSM, Cikgu Adnan.

Tak lupa pula dalam sambutan itu dilantunkan tilawah oleh salah satu santri SPA. Seusai sambutan dilanjutkan dengan ramah tamah serta tanya jawab antara kedua pihak. Di tengah kegiatan, rombongan telah menyiapkan bantuan berupa alat tulis, keperluan pribadi santri serta santunan pembangunan. Rombongan siswa dan guru yang berjumlah 24 orang tersebut melakukan kegiatan sosial yang mereka sebut dengan Khidmad Masyarakat. Mereka bekerja bakti di pondok. Siang yang terik tak mengurangi semangat mereka untuk mengangkat dan memindahkan kayu bangunan bakal pondok.


"Terima kasih MRSM Mukah, kami tunggu kedatangannya untuk kembali berkunjung ke Semarang", begitulah kesan yang disampaikan oleh santri SPA seusai kegiatan.

Semoga ada MRSM lain yang akan bersilaturahmi ke Indonesia, RQ Management-Your Sharing Partner!